Wabup Tanimbar Dorong Sampah Jadi Berkah, Gandeng Mahasiswa Indonesia-Jepang Kembangkan Ekonomi Sirkular

FunPic 20260819 212026526

FM, Tanimbar – Sampah bukan sekadar persoalan kebersihan, tetapi dapat menjadi sumber nilai ekonomi sekaligus pintu masuk bagi lahirnya inovasi teknologi ramah lingkungan. Pemikiran inilah yang didorong Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, Juliana Ch. Ratuanak, dalam sharing session bersama mahasiswa Universitas Sampoerna dan Institute of Science Tokyo, Jepang.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program internasional BESTS 2026 (Building Entrepreneurial Mindset for Sustainable Technology and Society) yang berlangsung pada 10–24 Agustus 2026, dengan dukungan INPEX Masela, Ltd.

Selama kurang lebih 1,5 jam, Wabup telah berdiskusi bersama para mahasiswa mengenai berbagai tantangan nyata pengelolaan sampah di Saumlaki, sekaligus membahas peluang penerapan konsep ekonomi sirkular di Kepulauan Tanimbar.

Menurut Wabup, persoalan sampah tidak cukup diselesaikan hanya dengan menerapkan aturan atau memindahkan sampah dari satu tempat ke tempat lainnya. Diperlukan perubahan cara pandang bahwa sampah, khususnya limbah plastik, dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi.

“Dalam pertemuan itu kita memaparkan tentang kondisi kebersihan kota dan sampah kita. Mau dibuat apa dengan sampah ini? Mau tetap dibuang terbuka, mau dibuat sanitary landfill, ditutup, atau diapakan?” kata Ratuanak di Kantor Bupati Saumlaki, Rabu (19/8/2026).

FB IMG 1787141908791

Ia mengatakan, dalam diskusi tersebut, Universitas Sampoerna turut memperkenalkan berbagai kemungkinan pemanfaatan teknologi untuk mengolah sampah plastik menjadi produk yang dapat digunakan kembali.

“Bagaimana mengubah sampah plastik menjadi aspal, bagaimana mengubah sampah plastik menjadi barang-barang yang bisa dipakai kembali,” ujarnya.

Menurutnya, konsep tersebut membuka peluang besar bagi Tanimbar untuk tidak hanya mengatasi persoalan lingkungan, tetapi juga menciptakan manfaat ekonomi bagi masyarakat.

“Saya membayangkan hutan kita jangan lagi ditebang, tetapi bagaimana plastik bisa diubah menjadi papan, misalnya. Atau jalan-jalan kita bisa dipenuhi dengan aspal yang kita buat sendiri,” katanya.

Ia menjelaskan, teknologi tersebut tentunya membutuhkan formulasi dan campuran yang tepat. Karena itu, proses penelitian dan pengembangan menjadi penting untuk memastikan produk yang dihasilkan memiliki manfaat jangka panjang sekaligus tetap ramah lingkungan.

“Mereka terus meneliti dan menciptakan hal-hal baru yang produktif, yang punya manfaat lama dan ramah lingkungan,” tambahnya.

Wabup juga menjelaskan terkait peluang kerja sama lanjutan, termasuk dalam bidang peningkatan kapasitas sumber daya manusia.

Ia menyebutkan, terdapat tawaran untuk membantu memperkuat kapasitas guru-guru di Indonesia melalui kerja sama dengan institusi pendidikan terkait.

“Ada yang sudah menawarkan, Ibu, bagaimana kami bisa melakukan penguatan kapasitas untuk guru-guru yang ada di Indonesia. Karena justru kami sementara mencari itu,” ungkapnya.

Menurutnya, kolaborasi lintas institusi dan negara menjadi penting untuk mempercepat transfer pengetahuan, teknologi, serta inovasi yang dapat memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

Ratuanak menegaskan, keberlanjutan lingkungan harus menjadi tanggung jawab bersama, terutama dalam menjaga laut, daratan, dan hutan di Kepulauan Tanimbar.

“Mari kita jaga laut kita, darat kita, dan hutan kita agar tetap lestari demi kelangsungan hidup anak-cucu kita ke depan,” ajaknya.

Ia mengingatkan bahwa alam bukan sekadar sumber daya yang dapat dieksploitasi tanpa batas, melainkan warisan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.

“Alam dan bumi ini adalah titipan anak-cucu kita. Jangan habis dikeruk, jangan habis dipakai demi kebaikan dan kelangsungan hidup di dunia,” tegasnya.

Selain isu lingkungan dan pendidikan, Ratuanak juga menyampaikan sejumlah agenda kerja sama pemerintah daerah dengan pemerintah pusat yang berkaitan dengan penguatan sektor kesehatan dan konektivitas internasional.

Ia mengatakan, Pemkab Kepulauan Tanimbar telah melakukan koordinasi dengan Kementerian Kesehatan, termasuk dengan Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, sebagai bagian dari persiapan yang berkaitan dengan pembukaan penerbangan internasional insidental.

Konsep penerbangan internasional insidental tersebut memungkinkan bandara dibuka untuk penerbangan internasional pada momentum tertentu sesuai kebutuhan, kemudian kembali ditutup setelah kegiatan selesai.

“Artinya dia bisa on-off saat kita perlu. Di mana ada momen, misalnya dari Sail Australia, kita buka penerbangan internasional dalam satu minggu kurang lebih, kemudian nanti ditutup lagi,” jelasnya.

Menurut Ratuanak, pengalaman dan rekomendasi yang telah diperoleh pemerintah daerah menjadi modal penting untuk mendorong kesiapan Tanimbar menghadapi perkembangan konektivitas global di masa mendatang.

“Yang penting bahwa sudah pernah terjadi. Ini adalah bandara yang sudah pernah dibuka untuk internasional dan ke depan memang kalau dunia semakin berkembang, semakin maju, untuk mendorong ke arah sana sudah akan lebih mudah karena kita sudah tahu,” pungkasnya.

Dirinya berharap kolaborasi antara pemerintah daerah, perguruan tinggi, dunia usaha, serta mitra internasional melalui program BESTS 2026 dapat melahirkan inovasi konkret dan berkelanjutan, terutama dalam pengelolaan lingkungan, pengembangan teknologi, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat Kepulauan Tanimbar.

Mengubah sampah menjadi berkah, menjaga bumi untuk generasi mendatang.(FM-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *