Oleh : Christian Matruty.
FM, Tanimbar – Saat ini, Kepulauan Tanimbar menjadi perhatian nasional melalui pengembangan Blok Masela, salah satu proyek energi terbesar di Indonesia. Proyek ini membawa harapan akan kemajuan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Namun, jauh sebelum dikenal karena potensi gas alamnya, Tanimbar telah lebih dahulu memiliki tempat penting dalam perjalanan sejarah kawasan Asia-Pasifik. Letaknya yang strategis di antara Laut Arafura dan Laut Timor menjadikan kepulauan ini diperhitungkan dalam dinamika geopolitik Perang Dunia II. Dengan demikian, arti penting Tanimbar tidak lahir semata karena kekayaan sumber daya alamnya, tetapi telah dibentuk oleh perjalanan sejarah yang panjang.
Pada pertengahan 1942, ketika Perang Dunia II berkecamuk di kawasan Pasifik, Saumlaki menjadi salah satu wilayah strategis dalam operasi militer Jepang dan sistem pertahanan Sekutu. Setelah menguasai sebagian besar Asia Tenggara dan Hindia Belanda, Jepang bergerak mendekati Australia. Dalam situasi itu, Tanimbar memiliki arti penting bagi kedua belah pihak. Bagi Jepang, Saumlaki merupakan salah satu jalur strategis menuju Australia. Sebaliknya, bagi Sekutu, mempertahankan wilayah ini menjadi bagian dari upaya memperlambat laju ekspansi Jepang sekaligus memberikan waktu untuk memperkuat pertahanan Australia.
Pada masa Hindia Belanda, Saumlaki merupakan pusat pemerintahan Onderafdeling Tanimbar-eilanden sekaligus tempat kedudukan Controleur Belanda. Pelabuhannya menjadi simpul pelayaran dan komunikasi di kawasan selatan. Ketika ancaman Jepang semakin nyata, kota kecil ini dipersiapkan sebagai salah satu titik pertahanan, meskipun dengan personel dan persenjataan yang sangat terbatas.
Untuk menjalankan tugas tersebut, KNIL menempatkan satu detasemen kecil di Saumlaki yang dipimpin oleh Sersan Julius Tahija, seorang prajurit kelahiran Surabaya dari keluarga keturunan Maluku. Bersama 13 prajurit KNIL, ia mendapat tugas mempertahankan Saumlaki selama mungkin sebagai bagian dari strategi pertahanan Sekutu di kawasan Pasifik.
Sebelum tiba di Saumlaki, Julius Tahija bersama pasukannya berangkat dari Darwin, Australia, menggunakan kapal kayu bermotor Griffioen. Kapal kecil itu mengangkut personel, persenjataan, dan perlengkapan menuju sebuah wilayah terpencil yang segera menjadi salah satu garis depan Perang Dunia II.
Perlawanan di Saumlaki
Setibanya di Saumlaki, Julius Tahija menyadari bahwa pertahanan kota itu tidak mungkin hanya mengandalkan 13 prajurit yang dipimpinnya. Dengan kekuatan yang sangat terbatas, ia membangun koordinasi bersama kepolisian Hindia Belanda, aparat pemerintahan, dan masyarakat Tanimbar yang memilih bertahan di tengah ancaman perang.
Pada dini hari 30 Juli 1942, armada Jepang mulai memasuki Teluk Saumlaki. Selain detasemen KNIL, sekitar 26 anggota veldpolitie turut bergabung dalam upaya mempertahankan wilayah tersebut. Dengan personel dan persenjataan yang jauh dari memadai, mereka menyiapkan posisi di sekitar pelabuhan dan jalur pendaratan. Mereka memahami bahwa kekuatan yang dimiliki tidak sebanding dengan pasukan Jepang. Tujuan mereka bukan memenangkan pertempuran, melainkan mempertahankan Saumlaki selama mungkin.
Pasukan Jepang akhirnya berhasil mendarat dan memberikan tekanan besar. Dalam pertempuran yang tidak seimbang itu, Julius Tahija mengalami luka. Menyadari bahwa pertahanan tidak mungkin dipertahankan lebih lama, ia memerintahkan pasukannya mundur ke pedalaman Pulau Yamdena. Keputusan tersebut bukanlah bentuk menyerah, melainkan langkah taktis untuk menyelamatkan personel agar perjuangan dapat terus berlanjut.
Dalam perjalanan menuju pedalaman, masyarakat Tanimbar menunjukkan keberanian yang sering kali luput dari catatan sejarah. Berbagai kesaksian lisan menyebutkan bahwa mereka membantu menunjukkan jalur yang aman, menyediakan makanan dan air, serta mengantar rombongan menuju rute penyelamatan. Bantuan itu diberikan dengan risiko besar karena siapa pun yang diketahui membantu Sekutu dapat menghadapi hukuman berat dari pasukan pendudukan Jepang.
Setelah bertahan di pedalaman dan menghindari pengejaran, Julius Tahija bersama sisa pasukannya akhirnya berhasil meninggalkan Tanimbar menggunakan kapal Griffioen. Setelah melewati patroli Jepang, cuaca buruk, dan keterbatasan perbekalan, mereka tiba di Pulau Bathurst, Australia, sebelum kemudian bergabung dengan pasukan khusus Australia, Z Force.
Sementara itu, masyarakat Tanimbar memasuki masa pendudukan Jepang yang penuh penderitaan. Berbagai kesaksian lisan menyebutkan adanya kerja paksa, kekurangan pangan, penangkapan, hingga tindakan represif terhadap warga yang dicurigai membantu Sekutu. Namun, jumlah maupun identitas seluruh korban masih memerlukan penelitian lebih lanjut melalui kajian arsip dan sejarah lisan.
Sejarah yang Belum Selesai Diceritakan
Pertempuran di Saumlaki memang berakhir dengan pendudukan Jepang. Namun, kisah yang lahir dari peristiwa itu tidak berhenti di medan perang. Julius Tahija kemudian dianugerahi Military Order of William, penghargaan militer tertinggi Kerajaan Belanda, atas keberanian yang ditunjukkannya selama perang. Setelah Indonesia merdeka, ia memilih mengabdikan diri kepada Republik Indonesia dan kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan nasional melalui kiprahnya di bidang pertambangan, energi, dan jasa keuangan.
Pengalaman tersebut kemudian ia abadikan dalam memoarnya, Beyond the Horizon (1995), yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul Melintas Cakrawala (1997). Dalam memoar itu, Julius Tahija mengisahkan perjuangannya mempertahankan Saumlaki, pertempuran melawan pasukan Jepang, keputusan mundur ke pedalaman Pulau Yamdena, hingga pelayaran penuh risiko menuju Australia menggunakan kapal Griffioen. Memoar tersebut bukan sekadar catatan perjalanan seorang prajurit, melainkan salah satu sumber primer yang memberikan kesaksian langsung mengenai Perang Dunia II di Tanimbar. Di dalamnya tergambar pula bagaimana keberanian, ketangguhan, dan bantuan masyarakat Tanimbar menjadi bagian penting yang memungkinkan dirinya bersama sisa pasukannya bertahan hidup dan melanjutkan perjuangan.
Namun, sejarah Saumlaki bukan hanya tentang Julius Tahija. Di balik kisah seorang prajurit muda terdapat anggota veldpolitie, aparat pemerintahan Hindia Belanda, serta masyarakat Tanimbar yang mempertahankan wilayahnya, membantu pelarian menuju Australia, maupun menjadi korban selama masa pendudukan Jepang. Banyak di antara mereka yang hingga kini belum tercatat secara utuh dalam dokumen sejarah.
Meski demikian, sejarah Perang Dunia II di Tanimbar masih menyisakan banyak ruang yang belum terungkap. Memoar Julius Tahija memberikan kesaksian dari sudut pandang seorang pelaku, tetapi masih banyak kepingan sejarah lain yang menunggu untuk ditemukan melalui arsip di Belanda, Australia, dan Jepang, maupun melalui sejarah lisan yang diwariskan dari generasi ke generasi di tengah masyarakat Tanimbar. Dengan menyandingkan berbagai sumber tersebut, pemahaman mengenai sejarah Tanimbar akan menjadi semakin utuh dan berimbang.
Mengingat kembali sejarah ini bukanlah untuk mengagungkan perang, membangkitkan romantisme kolonial, ataupun memelihara permusuhan antarbangsa. Sebaliknya, sejarah menjadi sarana untuk menghormati keberanian, pengorbanan, solidaritas, dan nilai-nilai kemanusiaan yang lahir di tengah situasi paling sulit. Di situlah sejarah memperoleh maknanya yang paling mendalam: memberi konteks terhadap perubahan, mengajarkan arti pengorbanan, dan mengingatkan bahwa setiap pembangunan selalu berdiri di atas pengalaman generasi-generasi sebelumnya. Sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan modal sosial yang membentuk identitas dan menjadi pijakan dalam menata masa depan.
Dari Medan Perang Menuju Masa Depan Tanimbar
Lebih dari delapan dekade setelah pertempuran di Saumlaki, Tanimbar kembali menjadi perhatian dunia. Jika pada 1942 kepulauan ini memiliki nilai strategis dalam dinamika Perang Dunia II, kini perhatian tersebut tertuju pada pengembangan Proyek LNG Abadi Masela, salah satu investasi energi terbesar di Indonesia. Perubahan ini menunjukkan bahwa posisi strategis Tanimbar tetap bertahan, meskipun alasan yang melatarbelakanginya telah bergeser mengikuti perkembangan zaman.
Transformasi itu juga tercermin dalam hubungan Indonesia dan Jepang. Pada masa perang, Jepang hadir sebagai kekuatan militer yang membawa konflik dan pendudukan. Kini, melalui INPEX Corporation sebagai salah satu pengembang utama Proyek LNG Abadi Masela bersama mitra Indonesia, Jepang hadir melalui investasi, teknologi, dan kerja sama pembangunan. Pergeseran tersebut memperlihatkan bahwa hubungan antarbangsa dapat berkembang dari konflik menuju kemitraan yang berorientasi pada kemajuan bersama.
Namun, keberhasilan pembangunan tidak semata-mata diukur dari besarnya investasi ataupun kapasitas produksi energi. Tolok ukurnya adalah sejauh mana pembangunan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat, memperkuat kualitas sumber daya manusia, menjaga kelestarian lingkungan, serta menghormati hak, adat, dan kearifan lokal yang telah diwariskan dari generasi ke generasi.
Bagi masyarakat Tanimbar, tanah dan laut bukan sekadar aset ekonomi. Keduanya merupakan ruang kehidupan yang menyimpan sejarah, identitas, dan nilai-nilai budaya yang membentuk jati diri masyarakat. Karena itu, pembangunan yang berkelanjutan harus mampu menyeimbangkan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian lingkungan serta penghormatan terhadap masyarakat adat sebagai pemilik ruang hidup tersebut.
Di sinilah pelajaran sejarah menemukan relevansinya. Peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi di Tanimbar mengingatkan bahwa setiap perubahan besar selalu menempatkan manusia sebagai pusatnya. Oleh sebab itu, pembangunan tidak hanya ditujukan untuk menghasilkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus menghadirkan keadilan, memperkuat martabat masyarakat, serta menjaga identitas daerah agar tetap lestari.
Pada akhirnya, perjalanan sejarah Tanimbar menunjukkan bahwa sebuah wilayah dapat memiliki arti penting pada berbagai zaman dengan peran yang berbeda. Jika dahulu dikenang sebagai salah satu kawasan strategis dalam pusaran Perang Dunia II, maka kini Tanimbar memiliki peluang untuk dikenang sebagai daerah yang mampu mengubah kekayaan alam menjadi kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan tanpa kehilangan jati dirinya.
Di situlah sejarah menemukan makna terbesarnya, bukan untuk mengagungkan perang ataupun romantisme kolonial, melainkan menjadi sumber pembelajaran dan pijakan dalam membangun masa depan yang lebih adil, damai, dan bermartabat.(FM-01)













