FAKTAMALUKU – Warisan budaya Tanimbar tidak sekadar disimpan sebagai peninggalan masa lalu. Melalui kreativitas, inovasi, dan sentuhan desain modern, warisan itu kembali dihidupkan dan diperkenalkan ke panggung yang lebih luas melalui Tanimbar Living Heritage 2026.
Pesan tersebut mengemuka dalam kegiatan Tanimbar Living Heritage yang berlangsung di Saumlaki, Kamis (24/9/2026). Kegiatan ini menjadi ruang untuk mempertemukan kekayaan budaya Tanimbar dengan kreativitas fashion, sekaligus menampilkan hasil karya para penenun dan pengrajin lokal.

Ketua Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sheren Amelinda Jauwerissa, dalam sambutannya menegaskan bahwa kegiatan tersebut bukan sekadar pertunjukan busana.
“Malam ini bukan sekadar sebuah fashion show. Malam ini adalah tentang bagaimana kita merayakan warisan budaya Tanimbar yang tetap hidup, berkembang dan terus diwariskan dari generasi ke generasi,” ujarnya.

Menurut Sheren, Tanimbar Living Heritage merupakan perayaan terhadap budaya, kreativitas, sekaligus cerita yang diwariskan leluhur Tanimbar dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ia mengatakan, Tenun Tanimbar tidak boleh dipandang hanya sebagai selembar kain. Di balik setiap motif dan warna, terdapat cerita tentang kehidupan, identitas, keterampilan, serta kearifan leluhur yang menjadi bagian penting dari jati diri masyarakat Tanimbar.
Karena itu, Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar terus mendorong agar kekayaan budaya tersebut tidak hanya dilestarikan, tetapi juga dikembangkan mengikuti perkembangan zaman.

Beberapa hari sebelum kegiatan tersebut, para penenun dan peserta telah mengikuti pelatihan pencelupan benang menggunakan pewarna alami serta pelatihan fashion design.
Hasil dari proses pembelajaran itu kemudian ditampilkan dalam Tanimbar Living Heritage, dengan memadukan unsur tradisional dan kreativitas modern tanpa menghilangkan identitas budaya Tanimbar.
“Kami percaya bahwa tradisi dan inovasi dapat tumbuh bersama. Tenun tradisional kita dapat terus berkembang tanpa kehilangan identitas, nilai dan cerita Tanimbar,” kata Sheren.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Daerah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Bupati Ricky Jauwerissa, Wakil Bupati, Sekretaris Daerah, serta seluruh jajaran pemerintah daerah yang telah memberikan dukungan terhadap program Dekranasda.

Bagi Dekranasda, kata Sheren, dukungan tersebut bukan hanya untuk menyukseskan sebuah kegiatan, tetapi merupakan bagian dari komitmen bersama dalam menjaga identitas budaya Tanimbar sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi penenun, pengrajin, dan pelaku ekonomi kreatif untuk berkembang.
“Ketika kita berjalan bersama, saya percaya warisan budaya Tanimbar tidak hanya akan tetap hidup, tetapi juga dapat menjadi kekuatan ekonomi dan kebanggaan bagi generasi Tanimbar hari ini dan di masa yang akan datang,” tuturnya.
Sheren turut menyampaikan penghargaan kepada para penenun dan pengrajin lokal yang selama ini konsisten menjaga warisan budaya Tanimbar.

Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada Amelia Jang, yang telah berbagi ilmu, pengalaman, dan kreativitas dalam pelatihan fashion design, serta Oly Romroma selaku instruktur pelatihan pencelupan benang menggunakan bahan alami.
Menurutnya, kegiatan tersebut diharapkan tidak berhenti pada sebuah pertunjukan. Lebih jauh, Tanimbar Living Heritage harus menjadi pintu pembuka bagi semakin banyak kesempatan bagi penenun, pengrajin, dan generasi muda Tanimbar untuk belajar, berkarya, dan membawa Tenun Tanimbar semakin dikenal di Indonesia maupun dunia.
Khusus kepada para tamu internasional dan sahabat dari Sail Darwin, Sheren menyampaikan sambutan hangat.
“We hope that tonight you will not only see the beauty of Tanimbar, but also feel the story, the culture, and the warmth of the people,” katanya.
Ia menegaskan, warisan budaya bukanlah sesuatu yang hanya disimpan dari masa lalu.
“Heritage is not only something we preserve from the past. It is something we live today and pass on to the future. This is Tanimbar. This is our story. This is our living heritage,” pungkasnya.
Sementara itu, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa mengatakan, warisan budaya merupakan sumber inspirasi dalam menciptakan produk inovatif yang memiliki nilai tambah dan daya saing.
Menurutnya, Kabupaten Kepulauan Tanimbar dianugerahi kekayaan budaya, seni, serta bahan alam yang luar biasa, mulai dari Tenun Ikat Tanimbar, kerajinan ukiran kayu hingga berbagai produk anyaman bernilai estetika tinggi.
Namun, kekayaan tersebut tidak akan otomatis menjadi kekuatan ekonomi apabila tidak dibarengi peningkatan keterampilan, inovasi, dan manajemen produk.
“Potensi besar ini tidak akan menjadi daya saing ekonomi yang berdampak nyata jika tidak disentuh oleh keterampilan, inovasi, dan manajemen produk yang baik,” kata Ricky.
Karena itu, Bupati menilai pelatihan yang telah dilakukan Dekranasda bersama Pemerintah Daerah bukan sekadar agenda rutin, melainkan investasi untuk masa depan masyarakat Tanimbar.
Pelatihan tersebut, kata dia, merupakan langkah nyata untuk meningkatkan kapasitas pengrajin, mutu produk, sekaligus mendorong peningkatan kesejahteraan keluarga masyarakat Tanimbar.
Ricky mengaku bangga melihat hasil karya yang ditampilkan dalam Tanimbar Living Heritage 2026.
“Apa yang kita lihat hari ini adalah bukti nyata bahwa jika masyarakat Tanimbar diberi ruang, diberi ilmu, dan diberi kesempatan, kita mampu menghasilkan produk yang tidak kalah saing dengan daerah lain,” tegasnya.
Ia menyebut, kegiatan tersebut juga dapat membuka peluang bagi dunia usaha di sektor fashion, desain, interior, aksesori hingga makanan khas Tanimbar.
Untuk itu, para pengrajin didorong terus meningkatkan produktivitas dan keterampilan dalam menciptakan inovasi baru, dengan tetap mempertahankan nilai-nilai kultural yang terkandung dalam setiap produk.
Ke depan, Bupati meminta organisasi perangkat daerah terkait terus bergandengan tangan dengan Dekranasda untuk memastikan para pengrajin memperoleh pendampingan secara berkelanjutan.
Pendampingan tersebut antara lain mencakup kemasan atau packaging, branding, akses permodalan hingga pemasaran.
Produk kerajinan Tanimbar, menurut Ricky, perlu dikemas lebih menarik dan memiliki citra premium sehingga mampu meningkatkan minat wisatawan.
Pemerintah daerah juga diminta menggandeng perbankan, BUMN maupun BUMD untuk membantu pembiayaan para pelaku usaha binaan Dekranasda.
Di sisi pemasaran, pemerintah diminta memfasilitasi para pengrajin agar dapat mengikuti pameran tingkat regional maupun nasional serta mengoptimalkan galeri kerajinan daerah.
Bupati juga mengajak seluruh unsur di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, mulai dari pemerintah, TNI/Polri, BUMN, BUMD hingga pihak swasta, untuk ikut menggunakan produk Tanimbar.
“Gunakan produk Tanimbar sebagai interior kantor maupun cinderamata bagi para tamu yang berkunjung ke daerah,” ajaknya.
Ricky memberikan apresiasi kepada Dekranasda yang dinilai telah tampil aktif dalam menggali, melestarikan, dan mengembangkan potensi seni serta kerajinan lokal.
Ia juga memberikan penghargaan kepada seluruh penenun dan pengrajin Tanimbar yang telah mengikuti rangkaian pelatihan dengan penuh antusias, kesabaran, dan komitmen.
Menurutnya, semangat masyarakat untuk terus belajar dan meningkatkan keterampilan merupakan modal penting bagi pengembangan ekonomi kreatif di Tanimbar.
“Semoga kegiatan ini membawa berkat serta kemajuan bagi sektor pariwisata dan ekonomi kreatif di Kabupaten Kepulauan Tanimbar,” pungkasnya.
Kegiatan ini juga menampilkan fesion khas tenun Tanimbar, tarian tradisional Tanimbar, hasil karya desainer lokal, tampilan solois lokal Tanimbar, dan hasil karya desainer Surabaya Amelia Jang.(FM-01)













