Lamers: Di Era Transparansi, Kritik Tanpa Data Adalah Distorsi

IMG 20260520 165705

FM, Tanimbar – Di tengah arus keterbukaan informasi yang kian tak terbendung, setiap pernyataan publik dituntut untuk berdiri di atas fondasi fakta, bukan asumsi.

Hal ini ditegaskan oleh tokoh muda Tanimbar, Jefri Lamers, dalam merespons polemik seputar program pelatihan BPI di Tanimbar, Rabu (20/5/2026).

Jefri tidak menampik bahwa sikap kritis adalah elemen penting dalam kehidupan demokrasi. Namun, ia menggarisbawahi bahwa kritik yang tidak ditopang oleh data justru berpotensi menyesatkan dan merusak ruang publik itu sendiri.

“Di era transparansi seperti sekarang, setiap kritik harus berbasis data yang valid. Tanpa itu, kritik hanya akan menjadi tuduhan kosong yang berbalik merugikan,” tegasnya.

Ia secara lugas membantah salah satu narasi yang berkembang, yakni dugaan keterlibatan Kepala Cabang BPI di Tanimbar dalam kontestasi politik Pilkada 2024. Menurutnya, klaim tersebut tidak memiliki dasar faktual.

“Itu informasi keliru. Kepala Cabang BPI tidak terafiliasi dengan tim sukses mana pun. Jika premis awalnya sudah salah, maka seluruh bangunan argumen tentang konflik kepentingan otomatis runtuh,” ujarnya dengan tegas.

Lebih jauh, Jefri meluruskan persepsi publik mengenai peran BPI dalam konteks pengembangan Blok Masela. Ia menegaskan bahwa BPI bukanlah jalur instan menuju pekerjaan, melainkan instrumen strategis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia lokal.

“BPI adalah pintu kesempatan, bukan jaminan kerja. Peserta dibekali pelatihan dan sertifikasi agar memiliki daya saing. Setelah itu, proses tetap berjalan secara profesional sesuai mekanisme yang ada,” jelasnya.

Menurutnya, pendekatan ini justru menjadi jawaban atas kebutuhan mendesak generasi muda Tanimbar: kesiapan, bukan sekadar harapan.

Di akhir pernyataannya, Jefri mengajak seluruh elemen masyarakat untuk membangun kultur berpikir yang lebih konstruktif. Ia menilai bahwa energi kolektif seharusnya diarahkan pada dukungan dan apresiasi terhadap setiap upaya pembangunan yang nyata.

“Tidak semua hal harus dicurigai. Jika ada kekeliruan, tunjukkan dengan data. Jika tidak, maka yang dibutuhkan adalah dukungan, bukan prasangka,” pungkasnya.(FM-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *