Diskusi Publik GMKI: Perempuan Tanimbar Harus Berani Ambil Ruang

ChatGPT Image 26 Mei 2026 14.32.34

FM, Tanimbar – BPC Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia Kabupaten Kepulauan Tanimbar menggelar diskusi publik bertema “Perempuan Bergerak, Tanimbar Berdampak di Era Globalisasi” di Aula Kampus Universitas Lelemuku Saumlaki, Selasa (26/5/2026).

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Wakil Bupati Kabupaten Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, M.K.M., yang sekaligus menjadi pemateri bersama Rektor Universitas Lelemuku Saumlaki, Ferly A. Sairmaly, SE., Msi. Diskusi publik itu dihadiri mahasiswa, organisasi kepemudaan, serta sejumlah elemen masyarakat.

IMG 20260526 123508 scaled

Dalam sambutannya, Wakil Bupati menegaskan bahwa mahasiswa merupakan kelompok intelektual yang memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, jiwa kritis, dan semangat eksplorasi yang kuat. Menurutnya, mahasiswa selama ini selalu menjadi garda terdepan dalam melahirkan berbagai terobosan di tengah masyarakat.

“Mahasiswa bukan hanya belajar di bangku kuliah, tetapi juga harus hadir di tengah kehidupan masyarakat. Organisasi menjadi tempat membentuk karakter, kepemimpinan, dan keterampilan sosial agar ketika kembali ke masyarakat, mereka benar-benar menjadi pribadi yang berdaya,” ujar Ratuanak.

IMG 20260526 131338 scaled

Dirinya menjelaskan, berbagai organisasi kemasyarakatan maupun organisasi kepemudaan di Indonesia pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni membangun kebersamaan demi mencapai tujuan bersama. Karena itu, keterlibatan mahasiswa dalam organisasi dinilai penting untuk membentuk kapasitas intelektual dan keterampilan sosial generasi muda.

Menurutnya, mahasiswa yang aktif dalam organisasi cenderung memiliki kemampuan adaptasi, kreativitas, dan keberanian untuk menghadapi tantangan kehidupan sosial. Sebaliknya, mereka yang tidak mengembangkan keterampilan di luar ruang kuliah berpotensi mengalami kesulitan ketika terjun langsung ke masyarakat.

“Jangan sampai setelah menjadi sarjana, kembali ke masyarakat tanpa daya saing dan kreativitas. Kampus adalah tempat menimba ilmu, tetapi pengalaman organisasi adalah ruang pembentukan karakter dan kemampuan hidup,” katanya.

Dalam momentum diskusi bertema perempuan tersebut, Wakil Bupati juga menyampaikan apresiasi kepada GMKI Tanimbar atas kepedulian terhadap isu pemberdayaan perempuan dan pembangunan daerah.

Ratuanak menilai kegiatan tersebut bukan sekadar forum diskusi, tetapi juga bentuk kepedulian generasi muda terhadap masa depan Tanimbar. Semangat kebersamaan itu, lanjutnya, sejalan dengan semboyan GMKI, Ut Omnes Unum Sint yang berarti “Supaya Mereka Semua Menjadi Satu.”

Mengutip pesan Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, Ratuanak mengingatkan generasi muda agar tidak melupakan sejarah dan identitas budaya.

“Jas Merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah. Anak muda hari ini harus memahami bukan hanya budaya, tetapi juga sejarahnya. Kalau lupa sejarah, maka akan kehilangan arah,” tegasnya.

Ia pun mengajak generasi muda untuk tidak hanya hadir sebagai penonton dalam berbagai dinamika pembangunan daerah, tetapi menjadi pelaku perubahan yang nyata.
“Jadilah pelaku, bukan penonton,” tandasnya.

Sementara itu, Ketua Cabang GMKI Tanimbar, Urbanus Batkunde, SE., dalam pemaparannya menegaskan bahwa perempuan Tanimbar memiliki peran strategis di tengah arus globalisasi.

Menurutnya, globalisasi membuka akses luas terhadap informasi, teknologi, dan budaya. Namun di tengah perubahan tersebut, perempuan Tanimbar tidak boleh hanya menjadi penonton, melainkan harus tampil sebagai subjek pembangunan.

“Sejak dahulu perempuan Tanimbar adalah penjaga nilai, penggerak ekonomi keluarga, sekaligus pengikat kehidupan sosial masyarakat. Hari ini perempuan harus berani mengambil ruang yang lebih luas, melek teknologi, berani berbisnis, dan membawa budaya Tanimbar ke panggung yang lebih besar tanpa kehilangan identitas,” ujarnya.

Batkunde menilai, kemajuan perempuan akan memberikan dampak besar bagi keluarga dan masyarakat. Ketika perempuan berdaya, maka keluarga menjadi kuat, kampung berkembang, dan daerah ikut bergerak maju.

Dirinya mengakui masih terdapat berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan akses, jarak wilayah, hingga pola pikir masyarakat. Namun menurutnya, perempuan Tanimbar telah terbukti tangguh menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

“Mari bergerak dari hal-hal kecil di sekitar kita. Belajar hal baru, mendukung usaha perempuan lain, menjaga budaya, dan berani bermimpi besar. Ketika perempuan Tanimbar bergerak, maka Tanimbar akan berdampak,” katanya.

Batkunde kemudian menandaskan semangat kader GMKI melalui slogan organisasi “Tinggi iman, tinggi ilmu, tinggi pengabdian. Ut Omnes Unum Sint.”(FM-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *