FAKTA MALUKU – Di bawah langit biru Lapangan Mandriak, Jumat (3/10/2025), deru angin laut Saumlaki membawa gema lagu kebangsaan yang menggugah. Bendera merah putih berkibar tegar di tengah terik matahari, menjadi simbol perjalanan panjang Kabupaten Kepulauan Tanimbar dua puluh enam tahun menapaki jalan otonomi.
Di hadapan ribuan peserta upacara, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa berdiri tegak sebagai Inspektur Upacara. Suaranya lantang, tegas, dan sarat pesan kebangsaan. Tak ada kalimat yang terucap tanpa makna. Ia berbicara tentang tanggung jawab, kebersamaan, dan keberanian untuk terus melangkah.

“Para pendiri telah menanamkan dasar perjuangan yang kuat. Kini tugas kita meneruskan dengan semangat yang sama membangun Tanimbar yang lebih maju, sejahtera, dan bermartabat,” tegas Ricky.
Kata-kata itu bukan sekadar seruan seremonial. Ia adalah panggilan moral bagi seluruh warga Tanimbar: untuk menyalakan kembali bara semangat yang dulu menuntun pemekaran daerah ini semangat mengurus diri sendiri dan berdiri di atas kaki sendiri.

Dua puluh enam tahun lalu, Tanimbar lahir dari mimpi besar dan perjuangan panjang.
Kini, di tengah perubahan global dan tuntutan kemajuan, perjuangan itu bergeser bentuk: bukan lagi melawan jarak dan keterisolasian, tetapi melawan ketertinggalan dan ketidakberdayaan.
Bupati Ricky memahami, zaman telah berubah. Tantangan bukan sekadar membangun infrastruktur, tetapi menegakkan pemerintahan yang transparan, digital, dan akuntabel.
“Kita tidak bisa membangun masa depan dengan cara lama. Pemerintahan hari ini harus terbuka, partisipatif, dan berbasis data agar rakyat benar-benar merasakan manfaat pembangunan,” ujarnya.
Digitalisasi pelayanan publik, reformasi birokrasi, dan efisiensi anggaran kini menjadi arus utama kebijakan pemerintahan Ricky Jauwerissa dr. Juliana Ratuanak.
Bagi Ricky, pemerintahan bukan panggung seremonial, melainkan arena tanggung jawab.
Tema HUT tahun ini “Bersatu, Berdaulat, Rakyat Sejahtera, Tanimbar Maju” mencerminkan arah dan spirit pembangunan yang kini dijalankan.
Persatuan menjadi fondasi utama, kedaulatan berarti kemampuan daerah mengelola potensi sendiri, dan kesejahteraan adalah puncak dari seluruh perjuangan.
“Persatuan itu kekuatan. Kedaulatan adalah hak. Tapi kesejahteraan, itulah cita-cita tertinggi dari semua perjuangan,” kata Ricky di hadapan peserta upacara, diiringi tepuk tangan dan sorak dukungan dari warga yang hadir.
Dalam pidatonya, Bupati Ricky menegaskan dua hal pokok pendidikan dan kesehatan.
Menurutnya, masa depan Tanimbar hanya bisa dibangun di atas generasi yang cerdas dan masyarakat yang sehat.
Ia menargetkan pencapaian Universal Health Coverage (UHC), agar setiap warga anpa memandang status ekonomi bisa mendapatkan layanan kesehatan gratis dan layak. Begitu pula pendidikan pemerataan, peningkatan mutu guru, dan akses pendidikan tinggi menjadi prioritas.
“Pendidikan yang merata dan kesehatan yang mudah dijangkau adalah pondasi kemajuan. Kita ingin anak-anak Tanimbar tumbuh percaya diri, berdaya saing, dan mampu bersaing di mana pun,” ujar Ricky.
Hadir dalam upacara itu perwakilan Gubernur Maluku, unsur Forkopimda, DPRD, para mantan Bupati dan Wakil Bupati, tokoh pemekaran, tokoh adat dan agama, serta ribuan warga dari berbagai kalangan.
“Dirgahayu Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Kemajuan akan cepat terwujud bila seluruh elemen bersinergi dan bekerja bersama,” tutup Ricky dengan suara yang kembali menggema di tengah lapangan.
Dua puluh enam tahun bukan sekadar angka dalam kalender pemerintahan. Ia adalah cermin perjuangan panjang dari ketertinggalan menuju kemajuan, dari isolasi menuju konektivitas, dari keterbatasan menuju harapan.
Kini, Tanimbar menatap masa depan dengan arah yang lebih jelas: membangun dari pinggiran, menata pemerintahan dengan jujur, dan memastikan setiap warga merasakan hasil pembangunan.
Di bawah kepemimpinan Ricky Jauwerissa, semangat “Duan Lolat” menemukan bentuk barunya persaudaraan yang produktif, kerja nyata yang terukur, dan keberanian melangkah ke masa depan.
HUT ke-26 menjadi refleksi dan kompas baru bagi Tanimbar. Dari Lapangan Mandriak yang dulu jadi saksi sejarah perjuangan, kini berkumandang tekad bersama
Bahwa Tanimbar tidak hanya ingin dikenal karena keindahan alamnya, tetapi karena keteguhan rakyatnya membangun masa depan dengan hati dan integritas.(NS)












