Opini  

“Kebencian” Penyakit Hati yang Membunuh Akal dan Martabat

Journalist with Kebencian headline

Oleh. Edward N. Sanamasse

FAKTA MALUKU, Tanimbar – Kebencian tidak pernah lahir dari kekuatan. Ia lahir dari luka yang tidak disembuhkan dan ego yang tidak diterima kenyataan. Kebencian mengganggu kinerja, bukan karena orang lain berbuat salah, tetapi karena hati telah memutuskan untuk tidak lagi melihat kebenaran. Sehebat apa pun seseorang bekerja, setulus apa pun ia memberi, tetap akan dianggap buruk di mata orang yang menyimpan benci. Sebab kebencian tidak membutuhkan alasan ia hanya membutuhkan sasaran.

Sering kali kebencian berakar dari kekecewaan yang dipelihara diam-diam. Kecewa karena tidak mendapat manfaat. Kecewa karena tidak menjadi bagian dari keberhasilan. Kecewa karena merasa tidak dianggap. Dari situlah iri hati menemukan rumahnya. Pepatah lama mengingatkan, “Dengki tak pernah kenyang, ia makan keberhasilan orang lain dan tetap merasa lapar.” Orang yang dikuasai kebencian bukan sedang menilai orang lain, melainkan sedang memperlihatkan kekosongan dalam dirinya sendiri.

Ketika kebencian menguasai hati, maka kinerja kehilangan kemurniannya. Tugas tidak lagi dijalankan dengan akal sehat, tetapi dengan dorongan dendam. Penilaian menjadi tidak netral, keputusan menjadi tidak rasional, dan tindakan menjadi membabi-buta. Kebencian menutup mata dari fakta dan menutup telinga dari kebenaran. Dalam kondisi itu, seseorang tidak lagi bekerja untuk tujuan, tetapi bekerja untuk memuaskan kebenciannya. Ia tidak lagi melayani tanggung jawab, tetapi melayani egonya sendiri.

Lebih berbahaya lagi, kebencian mampu meruntuhkan kecerdasan. Orang yang dikenal pintar bisa berubah seperti kehilangan arah. Ia berkeliaran dalam pikirannya sendiri, tersesat dalam prasangka yang ia ciptakan. Seperti pepatah berkata, “Kebencian membuat orang melihat bayangan sebagai musuh, dan cahaya sebagai ancaman.” Bahkan, ia bisa jatuh serendah binatang lapar yang mengais di tempat sampah bukan karena tidak punya kemampuan, tetapi karena kehilangan kendali atas dirinya sendiri.

Komentar yang lahir dari kebencian selalu kosong dari nilai. Ia keras, tetapi rapuh. Ia lantang, tetapi dangkal. Ia menyerang, tetapi tidak membangun. Kata-kata dilontarkan bukan untuk memperbaiki, tetapi untuk melampiaskan racun yang memenuhi dada. Orang yang dikuasai kebencian akan berbicara apa saja, tanpa arah, tanpa bukti, tanpa rasa malu. Karena baginya, melukai lebih penting daripada memahami.

Kebencian adalah penyakit hati yang paling sunyi, namun paling merusak. Ia tidak hanya merusak hubungan dengan orang lain, tetapi menghancurkan kejernihan diri sendiri. Ia mengikis integritas, mematikan kebijaksanaan, dan mengubur martabat perlahan-lahan. Orang yang menyimpan kebencian mungkin merasa sedang melawan orang lain, padahal sesungguhnya ia sedang menghancurkan dirinya sendiri.

Pada akhirnya, kebencian tidak pernah menjatuhkan orang yang dibenci. Kebencian justru membuka kedok siapa diri kita sebenarnya. Karena orang besar sibuk memperbaiki diri, sementara orang kecil sibuk membenci. Dan sejarah selalu mencatat satu hal yang sama: bukan kebencian yang membangun dunia, tetapi ketenangan, kejernihan, dan kebesaran jiwa.(Red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *