FAKTAMALUKU – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kepulauan Tanimbar terus mendorong pengembangan Tenun Ikat Tanimbar agar tidak hanya menjadi warisan budaya, tetapi juga mampu berkembang menjadi produk fashion yang memiliki nilai ekonomi dan daya saing lebih tinggi.
Upaya tersebut diwujudkan melalui program pelatihan pembuatan korset dan rompi berbahan Tenun Tanimbar yang berlangsung di Saumlaki, Selasa (22/9/2026).

Dalam kegiatan tersebut, Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar menggandeng Amelia Jang, seorang fashion designer yang memiliki pengalaman panjang di industri fashion, untuk berbagi ilmu, pengalaman, kreativitas, serta inspirasi kepada para peserta.
Amelia Jang merupakan lulusan Shanghai Raffles Design Institute. Ia juga pernah mengajar di LaSalle Design College sebagai dosen Fashion Design selama lebih dari 10 tahun.

Selain aktif di dunia pendidikan fashion, Amelia memiliki brand ready-to-wear AMELIA JANG yang telah berdiri sejak 2016 dan produknya dipasarkan di dalam maupun luar negeri.
Kehadirannya di Tanimbar diharapkan dapat membuka wawasan baru bagi para pelaku fashion dan pengrajin lokal, terutama dalam mengembangkan Tenun Tanimbar menjadi produk busana yang lebih modern tanpa menghilangkan karakter serta identitas budaya daerah.

Ketua Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sheren Amelinda Jauwerissa, mengatakan pelatihan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan menjahit, tetapi juga bagaimana peserta mampu mengembangkan konsep dan menghasilkan produk yang memiliki nilai jual.
“Sebagai Ketua Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, hari ini kita mengadakan pelatihan pembuatan korset dan rompi dengan berbasis bahan kain tenunan. Harapan kami dengan mendatangkan desainer dari Surabaya dapat membuka wawasan, ide dan pengalaman baru bagi para peserta di Tanimbar,” kata Sheren.

Menurutnya, peserta diharapkan tidak berhenti pada kemampuan teknis menjahit, tetapi mampu menghasilkan produk yang lebih berkualitas, kreatif, dan mempunyai nilai ekonomi yang lebih tinggi.
“Jadi mereka juga bisa belajar bukan hanya menjahit, tetapi mendapatkan sesuatu yang baru, bisa membuat produk yang lebih baik lagi, yang memiliki daya jual lebih tinggi serta membuka peluang usaha,” ujarnya.
Sheren menambahkan, pengembangan produk fashion berbasis Tenun Tanimbar merupakan bagian dari upaya untuk membawa kain tradisional tersebut semakin dikenal luas.

“Harapan kami para peserta di Tanimbar ini dapat membuat suatu produk unggulan dengan nilai jual yang lebih tinggi, membuka peluang usaha serta membawa tenun lebih berkembang dan terkenal lagi, baik di dunia nasional maupun di dunia internasional,” tuturnya.
Sementara itu, Amelia Jang mengaku tertarik dengan karakter Tenun Tanimbar setelah mempelajari filosofi yang terkandung di dalam motif-motif tenun tersebut.
Menurutnya, berbagai motif Tenun Tanimbar banyak mengambil inspirasi dari lingkungan dan kehidupan masyarakat setempat, termasuk unsur binatang dan tumbuh-tumbuhan yang memiliki makna bagi masyarakat lokal.
“Saya sempat mempelajari, jadi Tenun Tanimbar ini sangat berarti bagi warga sini. Saya mempelajari itu, bentuknya diambil dari binatang dan tumbuh-tumbuhan dari lokal sini,” kata Amelia.
Ia menilai, nilai budaya yang terkandung dalam Tenun Tanimbar perlu diperkenalkan secara lebih luas sehingga masyarakat di luar Tanimbar dapat memahami alasan kain tersebut begitu berharga.
“Menurut saya sesuatu yang berarti itu harus kita olah. Kalau cuma berarti bagi warga lokal, itu semua orang juga harus tahu artinya itu apa, supaya banyak masyarakat Indonesia secara luas itu mengerti. Apa yang membuat tenun ini berharga bagi warga lokal,” ujarnya.
Dengan demikian, kata Amelia, masyarakat di luar daerah juga akan memiliki ketertarikan untuk menggunakan Tenun Tanimbar sebagai bagian dari busana mereka.
“Sehingga mereka juga punya ketertarikan untuk mengenakan itu untuk busana mereka dan tidak memungkinkan untuk dipakai untuk busana sehari-hari,” katanya.
Dalam pelatihan tersebut, Amelia mengatakan fokus utama memang pada pembuatan korset dan rompi. Namun, ia juga memberikan berbagai tips dan trik kepada peserta terkait bagaimana menghasilkan produk fashion yang berkualitas dan memiliki daya tahan.
“Hari ini kan kita fokusnya membuat korset dan rompi, tapi ketika saya ketemu dengan masing-masing peserta, saya juga membagikan tips dan trik bagaimana membuat satu produk itu yang berkualitas,” jelasnya.
Menurut Amelia, produk fashion tidak cukup hanya menarik secara visual. Kualitas harus menjadi bagian penting agar produk tetap dapat digunakan dalam jangka panjang.
“Jadi bukan hanya bagus dipandang, tapi punya kualitas dengan jangka panjang. Jadi setelah dicuci, setelah diproses, itu kualitasnya tetap terjaga,” katanya.
Amelia juga mengaku sebelumnya telah mengenal kain tenun dari berbagai daerah. Namun, Tenun Tanimbar menjadi pengalaman baru baginya.
“Saya memang sudah tahu kain tenun lama, tapi khususnya untuk Tanimbar ini saya baru tahu. Tapi saya langsung suka sekali,” ungkapnya.
“Terutama kemarin waktu saya dikasih lihat oleh Ibu Sheren kain tenun dengan pewarna natural, pewarna alami. Itu bisa mengeluarkan warna yang bermacam-macam, ada kuning, orange, coklat, jadi indah banget,” tutur Amelia.
Ia bahkan mengaku terpukau ketika diperlihatkan sejumlah kain tenun dengan warna alami tersebut.
“Kayak kemarin dikasih lihat beberapa kain, saya kepingin ambil semua,” ujarnya sambil tersenyum.
Pelatihan ini menjadi salah satu langkah Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar dalam memperkuat ekosistem ekonomi kreatif berbasis budaya lokal. Tenun Tanimbar tidak hanya dipertahankan sebagai identitas budaya, tetapi juga terus didorong agar dapat bertransformasi menjadi produk fashion modern yang memiliki nilai tambah, membuka peluang usaha bagi masyarakat, sekaligus menembus pasar yang lebih luas.(FM-01)













