Pelatihan Pewarna Alami dan Fashion Design, Dekranasda Dorong Tenun Tanimbar Naik Kelas

IMG 20260922 WA00691

FAKTAMALUKU – Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kabupaten Kepulauan Tanimbar terus mendorong pengembangan Tenun Ikat Tanimbar agar tidak hanya bertahan sebagai warisan budaya, tetapi mampu berkembang menjadi produk kreatif bernilai ekonomi dan menembus pasar nasional hingga internasional.

Upaya tersebut diwujudkan melalui Pelatihan Pencelupan Benang dengan Pewarna Alami dan Pelatihan Fashion Design Tenun Ikat Tanimbar, yang berlangsung di Pendopo Kediaman Bupati Kepulauan Tanimbar, Saumlaki, Selasa (22/9/2026).

IMG 20260922 100630 scaled

Kegiatan tersebut dibuka dengan sambutan Ketua Umum Dekranasda Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Sheren Amelinda Jauwerissa, yang menegaskan bahwa Tenun Tanimbar bukan sekadar kain atau hasil kerajinan tangan.

Menurut Sheren, setiap benang, warna dan motif dalam Tenun Tanimbar menyimpan warisan budaya, identitas serta jati diri masyarakat Tanimbar yang diwariskan secara turun-temurun.

“Dahulu, para leluhur kita memanfaatkan apa yang tersedia di alam. Daun, kulit kayu, akar dari berbagai tumbuhan digunakan untuk menghasilkan warna-warna alami,” ujarnya.

IMG 20260922 095243 scaled

Ia menjelaskan, proses penggunaan pewarna alami memang membutuhkan waktu, kesabaran dan keterampilan. Namun, justru proses tersebut yang melahirkan karya dengan karakter dan nilai tersendiri.

Di tengah perkembangan industri fashion, kata Sheren, pewarna alami kembali mendapatkan perhatian karena sejalan dengan tren produk yang berkelanjutan dan ramah lingkungan.

Karena itu, pelatihan tersebut diarahkan untuk mempertemukan dua kepentingan sekaligus, yakni menjaga warisan budaya dan mendorong inovasi.

IMG 20260922 093852 scaled

“Tidak cukup hanya menghasilkan kain tenun yang indah. Kita juga ingin para pengrajin dan generasi muda mampu mengolahnya menjadi produk fashion yang kreatif, modern, berkualitas dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” katanya.

Sheren berharap seluruh peserta dapat memanfaatkan pelatihan tersebut untuk belajar, bertanya, mencoba serta mengembangkan kreativitas.

Ia ingin Tenun Tanimbar tidak hanya dikenakan dan dibanggakan di daerah sendiri, tetapi semakin dikenal dan dihargai di tingkat nasional maupun internasional tanpa kehilangan identitas dan kekhasan Tanimbar.

Menariknya, hasil dari pelatihan tersebut tidak berhenti pada proses pembelajaran. Sheren menyampaikan, karya yang dihasilkan akan ditampilkan pada 24 September 2026 dalam acara Tanimbar Living Heritage.

“Melestarikan warisan bukan berarti hanya menjaga apa yang sudah ada, tetapi memberi ruang agar warisan itu terus hidup, berkembang dan relevan dari generasi ke generasi,” tuturnya.

Sementara itu, Bupati Kepulauan Tanimbar Ricky Jauwerissa memberikan apresiasi terhadap Dekranasda dan seluruh pihak yang telah menggagas pelatihan tersebut.

Menurut Ricky, kegiatan tersebut bukan sekadar pelatihan teknis, melainkan bagian dari upaya menjaga warisan budaya leluhur sekaligus mengembangkan ekonomi kreatif daerah.

“Tenun Ikat Tanimbar merupakan salah satu kekayaan budaya yang tidak ternilai harganya. Di balik setiap helai benang dan setiap motif yang ditenun, tersimpan cerita, nilai, identitas, filosofi hidup, serta jejak sejarah masyarakat Tanimbar,” kata Ricky.

Ia menegaskan, kain tenun bukan hanya benda untuk dipakai atau komoditas ekonomi, melainkan simbol jati diri masyarakat Tanimbar yang menghubungkan masa lalu, masa kini dan masa depan.

Karena itu, menjaga kelestarian Tenun Ikat Tanimbar berarti menjaga identitas dan martabat budaya masyarakat Tanimbar.

Namun, Ricky mengingatkan bahwa tantangan ke depan adalah memastikan warisan tersebut tidak berhenti pada generasi saat ini.

Di tengah arus globalisasi dan perubahan tren industri fashion yang cepat, produk berbasis budaya lokal harus mampu beradaptasi tanpa kehilangan nilai otentiknya.

“Inovasi tidak berarti menghilangkan akar budaya, tetapi justru memperkuat nilai budaya dengan pendekatan yang lebih kreatif, relevan, dan sesuai dengan kebutuhan pasar,” jelasnya.

Menurut Ricky, kekayaan alam Tanimbar menyediakan berbagai sumber bahan pewarna yang ramah lingkungan sekaligus memiliki karakter warna yang unik.

Penggunaan pewarna alami, lanjutnya, dapat memberikan nilai tambah pada produk tenun karena menghasilkan warna yang eksklusif dan berkelanjutan, sekaligus menjawab tuntutan pasar yang semakin memperhatikan aspek lingkungan.

“Lebih dari itu, penggunaan pewarna alami juga menunjukkan komitmen kita terhadap pembangunan yang berwawasan lingkungan. Kita tidak hanya menghasilkan produk yang berkualitas, tetapi juga ikut menjaga ekosistem yang menjadi sumber kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Selain kemampuan produksi, Ricky menilai penguasaan desain menjadi faktor penting agar Tenun Ikat Tanimbar mampu masuk ke pasar yang lebih luas.

Produk berkualitas, menurutnya, harus didukung desain yang menarik, inovatif dan sesuai kebutuhan konsumen.
Karena itu, pelatihan fashion design dinilai memiliki nilai strategis untuk memberikan wawasan baru kepada peserta mengenai tren fashion, pengembangan produk, kombinasi motif dan pemilihan warna.

Tenun Ikat Tanimbar juga diharapkan dapat dikembangkan ke dalam berbagai produk fashion modern tanpa menghilangkan identitas budaya yang melekat di dalamnya.
Ricky turut menyoroti peran perempuan Tanimbar dalam menjaga keberlangsungan tradisi menenun.

Dengan ketekunan, ketelitian dan kesabaran, perempuan-perempuan Tanimbar selama ini menjadi bagian penting dalam menjaga agar warisan budaya tersebut tetap hidup.

“Perempuan-perempuan Tanimbar bukan hanya penjaga tradisi, tetapi juga penggerak ekonomi keluarga dan masyarakat,” katanya.

Karena itu, pengembangan Tenun Ikat Tanimbar, lanjut Ricky, harus berjalan seiring dengan pemberdayaan perempuan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Ketika kualitas produk meningkat, akses pasar semakin luas dan nilai jual tenun bertambah, maka manfaat ekonominya diharapkan dapat dirasakan langsung oleh keluarga-keluarga pengrajin di desa-desa.

Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar, kata Ricky, berkomitmen mendukung pengembangan Tenun Ikat Tanimbar melalui peningkatan kapasitas sumber daya manusia, promosi produk unggulan daerah, fasilitasi pameran, penguatan kelembagaan UMKM serta membuka peluang kerja sama untuk memperluas akses pemasaran.

“Ke depan Tenun Ikat Tanimbar tidak hanya dikenal sebagai produk budaya, tetapi juga menjadi kekuatan ekonomi yang mampu meningkatkan pendapatan masyarakat, menciptakan lapangan kerja, dan berkontribusi terhadap pembangunan daerah,” tegasnya.

Ricky kemudian mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan dengan sungguh-sungguh dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk belajar, berbagi pengalaman serta mengembangkan kreativitas.

Ilmu yang diperoleh, katanya, tidak boleh berhenti pada peserta, tetapi perlu ditularkan kepada generasi muda agar keterampilan menenun dan kecintaan terhadap budaya Tanimbar tetap terjaga.

Ia berharap pelatihan tersebut mampu melahirkan sumber daya manusia yang terampil, kreatif dan inovatif, sekaligus membawa Tenun Ikat Tanimbar semakin dikenal dan dihargai di tingkat nasional maupun internasional.

“Semoga kegiatan ini menghasilkan sumber daya manusia yang terampil, kreatif, inovatif, dan mampu mengangkat Tenun Ikat Tanimbar menjadi kebanggaan daerah yang semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional,” pungkasnya.(FM-01)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *