FAKTA MALUKU – Di sebuah sudut sunyi Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur, sebuah pohon cengkih berdiri seperti biasa. Tak ada yang istimewa dari batangnya. Tak ada penanda duka. Namun dari sanalah sebuah kisah pilu tentang kemiskinan, luka batin, dan kegagalan kita sebagai orang dewasa bermula.
Seorang anak, masih duduk di bangku Sekolah Dasar, ditemukan telah meninggal dunia. Usianya belum cukup untuk memahami kerasnya dunia, tetapi hidup telah memaksanya memikul beban yang bahkan orang dewasa pun sering tak sanggup menanggung.
Yang tertinggal bukan hanya jenazah kecil, tetapi juga sepucuk surat ditulis dengan bahasa daerah Bajawa, bahasa ibu yang jujur, polos, dan tanpa topeng.
Dalam surat itu, sang anak menuliskan kalimat sederhana namun menghantam nurani: tentang ibunya yang dianggap “pelit”, tentang kepergian yang tak perlu ditangisi. Tidak ada kata “benci”. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak. Yang ada hanyalah kesedihan yang terlalu sunyi.
Bagi sebagian anak di kota besar, buku dan pena adalah hal remeh – mudah dibeli, mudah diganti. Namun di banyak pelosok negeri, termasuk Ngada, alat tulis bisa menjadi barang mewah. Bukan karena harganya mahal, tetapi karena hidup lebih dulu menuntut makan, bertahan, dan berutang.
Anak ini diduga pergi karena tak mampu membeli buku dan pena. Sebab sederhana, tapi dampaknya fatal. Sebab di balik itu tersimpan tekanan panjang: rasa tak enak hati, rasa menjadi beban, rasa kalah sebelum sempat bertanding.
Menteri Sosial RI, Saifullah Yusuf, menyampaikan keprihatinan dan duka cita. Ia menyebut peristiwa ini harus menjadi atensi bersama, pemerintah pusat dan daerah.
“Tentu kita prihatin, turut berduka. Ini menjadi perhatian kita bersama,” ujarnya.
Pernyataan itu penting. Namun di desa tempat anak itu tumbuh, duka bukan sekadar pernyataan. Duka adalah ruang kosong di rumah, bangku sekolah yang tak lagi terisi dan ibu yang mungkin seumur hidup bertanya: apa yang luput dari pelukannya?
Dosen Psikologi Universitas Muhammadiyah Surabaya, Marini, menilai isi surat tersebut menunjukkan tekanan emosi berat. Menurutnya, anak usia sekitar 10 tahun sudah dapat mengalami depresi serius, meski sering tidak dikenali.
Ungkapan “Mama pelit sekali” bukan sekadar keluhan. Itu adalah teriakan hati anak yang merasa ditolak secara emosional.
Tekanan ekonomi, kata Marini, kerap membuat orang tua lebih tegang, lebih singkat, lebih keras bukan karena tak sayang, tetapi karena lelah hidup. Anak yang peka menyerap perubahan itu dan menafsirkannya dengan cara mereka sendiri.
Anak belum mampu memahami kemiskinan sebagai situasi. Mereka memaknainya sebagai kegagalan diri.
Tanpa ruang aman untuk bertanya dan menangis, anak menyimpan luka sendirian. Dan luka yang disimpan terlalu lama, bisa berubah menjadi keputusan yang tak pernah dimaksudkan.
Dari Maluku, seorang pendeta dan konten kreator, Pdt. Eko Saputra Poceratu, menulis refleksi dengan dialek Ambon. Kata-katanya menyebar luas, bukan karena viral semata, tetapi karena jujur.
Ia menulis tentang triliunan rupiah yang beredar, tentang program-program besar, sementara di pulau-pulau jauh masih ada anak yang harus “jadi dewasa karena beban hidup”.
“Nyawa seng bisa dicicil,” tulisnya.
“Skarang tinggal luka yang basah.”
Kalimat itu menampar kesadaran kemajuan yang tak menyentuh yang paling lemah bukanlah kemajuan.
Kematian anak ini bukan sekadar tragedi keluarga. Ini adalah kegagalan kolektif ketika kemiskinan, tekanan emosi, dan minimnya pendampingan bertemu dalam satu titik yang mematikan.
Anak-anak tidak butuh pidato panjang.
Mereka butuh didengar.
Dipeluk. Dan diyakinkan bahwa hidup, seberat apa pun, bukan tanggung jawab mereka.
Jika satu buku dan satu pena bisa menjadi batas antara hidup dan harapan, maka sesungguhnya yang perlu kita benahi bukan anak-anak itu melainkan cara kita menjaga mereka.(NS)












