Pakai APBD Untuk Ke Palestina Walikota Dikritik

Tualeka : Ini Sindrome Jabatan Periode Kedua

No comment 121 views
banner 160x600

Women face

AMBON,FM - Saat ini Kota Ambon masih perlu banyak pembenahan untuk menuju kota yang aman dan nyaman. Dan untuk mewujudkan itu semua tentunya tidak terlepas dari pembiyaan yang cukup besar.

Baca Juga: Bupati Abua Tipu Dua Mata Rumah Parentah Negri Hatu
Baca Juga: Lantik Raja Hatu Tanpa Pemilihan

Namun ironisnya, Pemerintah Kota Ambon terkesan menghambur-hamburkan uang untuk sesuatu yang tidak terlalu penting. Misalnya saja konser penyanyi Oscar Harris yang pastinya menelan anggaran milyaran rupiah. Dan yang viral saat ini adalah "kunjungan" Pemerintah dan DPRD Kota Ambon ke Palestina. Itupun tidak menggunakan sedikit uang. Apalagi uang yang dipakai bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kota Ambon.

Fenomena ini pun mendapat perhatian serius dari Direktur Maluku Democration Watch (MDW) Mohamad Ikhsan Tualeka.

Menurutnya, keberangkatan Walikota bersama sejumlah anggota DPRD Kota Ambon ke Palestina pasti menuai banyak protes, namun hal ini telah diduga oleh sang Walikota. Tualeka menyebutnya sebagai sindrome jabatan periode kedua. "Ini sebenarnya masuk sindrome jabatan periode kedua, mau bikin apa saja tidak masalah, ‘iko suka saja’, kata orang Ambon. Karena sudah tidak ada lagi konsekuensi politik. Apalagi masyarakat Ambon sudah sangat apatis, jadi yang begini ini paling yang protes satu-dua orang saja," tandasnya.

Terlepas dari semua itu yang pasti perjalanan ke Palestina menggunakan uang negara, mesti dipertanggungjawabkan. Baik itu secara moral, politik maupun keuangan.
"Beta pribadi melihat belum ada urgensi ke Palestina apalagi hingga membawa rombongan besar. Kalau pun alasannya menghadiri undangan, ya mungkin Walikota dan satu staf saja sudah cukup, ini jumlah yang pergi bersaing dengan jumlah rombongan lawatan Pak Jokowi ke luar negeri," tuturnya sambil tertawa kecil.

Beberapa waktu lalu, sebelum keberangkatan rombongan ke Palestina, Walikota Ambon yang ditanya wartawan di gedung DPRD
terkait dengan keberangkatan ini yang hanya memboros anggaran daerah, Walikota menyampaikan salah satu filosofi nelayan di Maluku. “Kalau mau dapat bubara, tidak mungkin dengan gete gete.”

Pernyataan ini pun mendapat reaksi keras dari penggiat Anti Korupsi ini. "Katanya sih mau mengail ‘Bubara’ (ikan/investasi besar), nah, Bubara ini yang perlu dijelaskan, karena bukannya Palestina justru masih butuh bantuan dan kerap dilanda perang? di era keterbukaan begini jangan mengarang indah deh. Kadang-kadang pejabat kita ini jadi kurang logis berfikirnya. Mending uang yang dipakai ‘jalan-jalan’ itu digunakan buat bersihkan selokan-selokan yang mulai penuh dengan sampah, bikin air ‘balandong, bau busuk dan bakal bikin banjir kalau hujan tiba. Ironisnya ini di tak jauh dari Balai Kota,"kata Tualeka


Menyikapi fenomena ini, lanjut Tualeka, maka pejabat publik itu harus banyak reflekasi diri, dunia yang semakin digital ini membuat jejak kinerja dan aktivitas mudah untuk ditelusuri, maka tinggalkanlah warisan yang baik untuk dikenang warga.

Kedua, jabatan politik itu tidak berada diruang kosong, tapi dinamis, perhatikan dan dengarlah suara-suara kritis dari warga, mereka adalah kontrol yang baik agar pemerintahan tetap ada pada jalurnya.

Ketiga, ada banyak problem di Kota Ambon, maka pandai-pandailah gunakan uang rakyat itu. Harus ada rasa malu mengunakan dana publik yang terkesan hanya untuk memenuhi hasrat pribadi.

Keempat, perlu ada penjelasan resmi ke publik atas apa saja hasil ‘jalan-jalan’ itu, mengingat ini sudah kesekian kali, tapi belum jelas apa yang dihasilkan.

Kelima, masyarkat harus tetap kritis menyikapi persoalan semacam ini, terutama dari Mahasiswa dan kaum inteletual. Apatisme warga bikin pejabat makin ugal-ugalan, iko suka saja. (FM-02)