Terkait Pelaksanaan Pemantapan Kurikulum 2013 Bagi PAUD Kota Ambon

Panitia Penyelenggara Diduga Lakukan Manipulasi

No comment 185 views
banner 160x600

Women face

AMBON - Budaya korupsi dan penggelapan dana rupanya sudah berakar dalam setiap sendi kehidupan. Bahkan lembaga yang mengayomi tenaga pendidik anak usai dini, diduga melakukan manipulasi data.

Baca Juga: Gempa Bumi Guncang Ambon Dan SBB, Tidak Berpotensi Tsunami
Baca Juga: Heli MI 8 Lakukan Water Bombing Wilayah Terdampak Likuifaksi Di Sulteng

Dugaan manipulasi data dan penggelapan dana pemantapan kurikulum 2013 (K13). Terlihat dalam pelaksanaan pelatihan dan pemantapan K13 bagi PAUD se Kota Ambon, yang telah selama dua hari. Yakni tanggal 8 dan 9 Mei 2018, di Gedung Dharma Wanita Kota Ambon.

Dalam agenda yang digelar Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini (HIMPAUDI) Kota Ambon tersebut, terdapat berbagai kejanggalan.

Pasalnya dalam pelatihan yang diikuti 80 peserta tersebut. Panitia Penyelenggara hanya menyelenggarakan pelatihan selama dua hari.

Padahal sesuai program resmi yang diturunkan Dinas Pendidikan Kota Ambon. Pelatihan tersebut harus dilakukan selama tiga hari. Anehnya walau pelatihan hanya dilakukan selama dua hari.

Akan tetapi panitia pelaksana mengharuskan peserta menandatangani absensi kehadiran selama tiga hari.

Kejanggalan dan dugaan manipulasi yang dilakukan panitia penyelenggara juga terlihat saat pelaksanaan acara tersebut. Dimana peserta pelatihan sebanyak 80 orang ini, tidak diberikan ATK selayaknya suatu pelatihan resmi yang digelar pemerintah maupun pihak swasta.

Padahal dari data dan dokumen yang didapat Fakta Maluku dari sumber terpercaya di Dinas Pendidikan Kota Ambon. Dalam proposal kegiatan ini tercantum item pembelian ATK bagi peseta.

Namun panitia tanpa alasan yang jelas, tidak memberikan ATK kepada peserta. Bahkan peserta diminta membawa sendiri ATK mereka.

Dugaan manipulasi lain juga terlihat dengan tidak diberikannya biaya pengganti transport bagi peserta dalam kegiatan tersebut.

Padahal lagi lagi dalam proposal kegiatan tercantum item dana pengganti biaya transport bagi peserta.

Namun panitia diduga sengaja tidak memberikan apa yang menjadi hak peseta tersebut. Panitia beralasan, peserta tidak diberikan biaya pengganti transport lantaran panitia sudah menanggung makan peserta selama dua hari kegiatan.

Padahal, dalam draft anggaran pelaksanaan kegiatan. Tercantum item dana konsumsi selama tiga hari pelaksanaan kegiatan. Padahal panitia hanya menggelar acara tersebut selama dua hari. (JWL)