Lantik Raja Negeri Hatu

Bupati Abua Tipu Dua Mata Rumah Parentah Negri Hatu

No comment 1301 views
banner 160x600

Women face

AMBON,FM -  Dua keluarga mata rumah parentah di negeri Hatu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah merasa ditipu mentah-mentah oleh Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua, terkait pengangkatan dan pelantikan Marcus Hehalatu sebagai Raja Negeri Hatu.

Baca Juga: Lantik Raja Hatu Tanpa Pemilihan
Baca Juga: UHC 1 Januari 2019 : Kota Tual Patut Dibanggakan

Kekecewaan ini sangat dirasa oleh dua keluarga mata rumah parentah, karena Bupati Abua pada 21 November 2018 telah berjanji tidak akan melakukan pengangkatan dan pelantikan karteker, untuk mengisi kekosongan kepala pemerintahan negeri Hatu, pasca selesai periodesasi raja negeri Hatu di akhir Oktober 2018.

Keseriusan Bupati Abua ini dipertegas dengan mengarahkan dua mata rumah parentah untuk menyurati saniri negeri Hatu, guna memfasilitasi musyawarah mata rumah dan mengakomodir mata rumah yang terabaikan dalam peraturan negeri Hatu, dan  tembusan surat tersebut dikirimkan kepada Bupati Maluku Tengah,  di Masohi.

Namun keseriusan yang ditunjukan Abua hanyalah semu, Karena Bupati Abua telah sengaja  dengan sadar menghianati pertemuannya dengan perwakilan keluarga mata rumah parentah di ruang kerja Bupati.

“Bapak Bupati su tipu katong. Untuk isi kekosongan raja pasca demisioner, antua (Bupati Abua) su janji seng akan ada pengengkatan maupun pelantikan karteker. Keluarga mata rumah parentah diminta segera usul karteker sambil mempersiapkan pemilihan raja baru. Tapi apa yang katong dapat? Bupati su parlente katong,”  tegas Alex Vicius Hehalatu. Salah satu dari keluarga mata rumah parentah

1543791292-Fakta Maluku-surat

surat kepada saniri negeri Hatu tembusan kepada Bupati Maluku Tengah

Dikatakannya, langkah yang diambil  keluargmata rumah parentah bertujuan untuk mengembalikan adat negeri Hatu yang dirasa sudah mulai pupus, agar negeri Hatu dapat kembali dipandang sebagai negeri adat yang berwibawa dan dapat disejajarkan dengan negeri-negeri adat lainnya di Maluku..

“Negeri Hatu saat ini sudah kehilangan wibawa. Beta bilang begini karena dalam setiap momentum yang ada di Maluku ini, raja negeri Hatu sangat tidak diperhitungkan. Mau bersaing bagimana kalau cuma  skolah sampe SD klas ampat ?,“ lanjut Alex Vicius.

Diberitakan sebelumnya, Bupati Maluku Tengah Tuasikal Abua Kamis (29/11) malam kembali berulah dengan melantik Marcus Hehalatu, sebagai raja negeri Hatu, Kecamatan Leihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah.

Pelantikan ini dilakukan secara diam-diam dan berlangsung di pendopo Bupati, dan hanya dihadiri oleh kepala bagian Pemerintahan Malteng Anes Noya, Sekretaris Kecamatan Leihitu Barat Jhon F. Latumeten dan saniri negeri Hatu.

Pelantikan misterius ini pun membuat ketenangan warga di desa Hatu semakin terusik. Pasalnya, pelantikan Marcus Hehalatu sebagai raja negeri Hatu ini, tidak melalui mekanisme pemilihan yang semestinya dilakukan oleh mata rumah parentah.

Pengangkatan dan pelantikan Marcus Hehalatu sebagai raja negeri Hatu telah bertentangan dengan Peraturan Daerah Maluku Tengah Nomor 01 tahun 2006, bagian ketiga pasal 6 tentang Syarat dan Tata Cara Pengangkatan Kepala Pemerintahan Negeri/Negeri Administratif. Dimana pada saah satu poin menyebutkan “calon kepala pemerintahan berpendidikan paling redah lulusan sekolah lanjutan tingkat pertama dan atau sederajat”. Sedangkan Marcus Hehalatu hanyalah mengenyam pendidikan sampai bangku kelas empat pada Sekolah Dasar Negeri Hatu. Kuat dugaan Marcus Hehalatu telah melakukan pemalsuan ijazah.

Sementara itu, Bupati Maluku Tengah, Tuasikal Abua, yang berkali-kali coba dihubungi via telepon selulernya untuk konfirmasi namun tidak merespon panggilan selulernya. (FM-02)